Minggu, 28 Februari 2010
37 Pohon Tua di Petojoutara Ditoping
Informasi terbaru 37 Pohon Tua di Petojoutara Ditoping JAKARTA, MP - Untuk mengantisipasi kejadian pohon tumbang, Kelurahan Petojoutara terus mengintensifkan kegiatan penopingan terhadap sejumlah pohon yang ranting dan daunnya telah rimbun. Bahkan, sejak awal Januari 2010 hingga saat ini, tak kurang 37 pohon telah ditoping di wilayah tersebut.
Salah satu kawasan rawan pohon tumbang di Petojoutara adalah daerah Jl Alaydrus. Bahkan, untuk memperindah kawasan itu, selain melakukan penopingan terhadap beberapa pohon besar, pihak kelurahan bersama Sudin Pertamanan Jakarta Pusat juga mengecat sejumlah pot berisi tanaman hias dan trotoar di sepanjang Jl Suryopranoto, hingga Jl Gajah Mada.
Penopingan yang dilakukan petugas, merupakan respon dari laporan masyarakat. Sebab, keberadaan beberapa pohon itu ada juga yang telah menutupi rambu lalu lintas, sehingga mengganggu kenyamanan pengendara kendaraan bermotor.
"Warga memang meminta agar pemangkasan dilakukan. Karena selain khawatir tumbang sewaktu hujan, rambu penunjuk jalan juga terhalang oleh rimbunnya pohon" ujar Cecep Junaidi, Ketua RW 02, Kelurahan Petojoutara, Kecamatan Gambir, Jakarta Pusat, Minggu (28/2).
Lebih lanjut Cecep menjelaskan, permintaan pemangkasan tersebut, juga bertujuan untuk mencegah hadirnya para pemulung bergerobak yang kerap berteduh di bawah pohon-pohon itu. Akibatnya, dengan adanya pemulung-pemulung itu, kondisi bawah pohon menjadi kotor.
"Dengan dipangkas, pemulung akan malas untuk berteduh karena panas,â jelasnya.
Kepala Seksi Prasarana dan Sarana Kelurahan Petojoutara Ridwan Mikrohudi mengatakan, sejak awal tahun 2010 pihaknya telah memangkas 37 pohon di wilayah Kelurahan Petojoutara. Salah satunya di Jl Pembangunan II, Jl Pembangunan III, dan pinggir Kali Krukut yang berada di wilayah Petojoutara. "Untuk penopingan itu, setidaknya membutuhkan tujuh orang pekerja " ujar Ridwan.
Lurah Petojoutara Andri Ferdian mengungkapkan, kegiatan penopingan itu memang untuk mengantisipasi rawannya pohon tumbang di wilayah Jl Pembangunan II dan Jl Pembangunan III. Ia mengakui jika penopingan berlangsung setelah adanya permintaan warga setempat yang menyampaikanya kepada pengurus RW lalu diteruskan kepada pihak Kelurahan Petojoutara.
âUntuk pengecatan itu sendiri kita melibatkan 6 orang pekerja. Dengan penopingan dan pengecatan ini diharapkan keindahan makin terjaga, sehingga Piala Adipura bisa kita raih kembali,â tandasnya. (red/*bj) Tinggalkan komentar anda tentang 37 Pohon Tua di Petojoutara Ditoping
Kamis, 25 Februari 2010
Dishub akan Tebar Stiker Tarif Parkir
Informasi terbaru Dishub akan Tebar Stiker Tarif Parkir JAKARTA, MP - Untuk menjerat operator parkir nakal, yang menaikkan tarif secara sepihak, Pemprov DKI Jakarta akan memasang jurus-jurus baru. Setidaknya, UPT Perparkiran Dinas Perhubungan DKI Jakarta, diminta segera memasang stiker tarif parkir di setiap lokasi parkir. Maksudnya agar masyarakat dapat mengetahui tarif parkir yang sebenarnya. Jika masih ada operator yang nekad melakukan pelanggaran maka sanksi tegas akan segera diberikan.
Wakil Gubernur DKI Jakarta, Prijanto, menegaskan bahwa kenaikan tarif parkir sepihak yang dilakukan para operator parkir sudah keterlaluan. Selain melanggar aturan, sikap mereka cenderung sangat merugikan masyarakat. Salah satu cara untuk menyudahi langkah mereka adalah, dengan memasang stiker di setiap lokasi parkir. Stiker tersebut berisi tarif parkir yang telah ditetapkan di dalam Pergub. Sehingga apabila ada operator parkir yang menaikan tarif parkir tidak sesuai ketentuan maka masyarakat akan langsung tahu dan bisa melaporkannya kepada aparat.
"Saya minta UPT Perparkiran segera menempel stiker di setiap tempat parkir. Biar masyarakat tahu berapa seharusya tarif yang harus dibayar dan berapa yang diminta pengelola parkir," kata Prijanto, saat silaturahmi dengan wartawan koordinatoriat balaikota dan jajaran SKPD serta para walikota di balaikota, Kamis (25/2).
Diharapkan, dengan ditempelnya tarif parkir di setiap lokasi parkir maka membuat pengawasan yang dilakukan oleh unit pelaksana teknis (UPT) Perparkiran menjadi lebih ringan. Selain itu, masyarakat juga bisa dilibatkan langsung untuk ikut mengawasi. Sehingga dapat membantu kinerja UPT Perparkiran yang masih kekurangan SDM dalam melakukan pengawasan di lapangan.
Prijanto juga meminta UPT Parkir bertindak tegas terhadap para operator parkir nakal. Apabila operator tersebut terbukti melakukan kesalahan, kemudian setelah diperingatkan berhenti sejenak, namun di kemudian hari melakukannya lagi maka sanksi tegas harus diberikan. "Mereka yang melakukan hal tersebut jangan hanya diperingatkan saja, tapi juga harus diketak (dikenai sanksi tegas," pintanya.
Kepala Dinas Perhubungan DKI, Muhammad Tauchid berjanji akan melaksanakan perintah Wagub tersebut. Pihaknya akan segera memasang stiker -stiker tersebut di setiap lokasi parkir. "Kita akan melakukan penempelan secepatnya," ucapnya.
Terkait sanksi kepada operator nakal, Dinas Perhubungan DKI saat ini sudah melayangkan surat teguran kepada 10 operator parkir yang melakukan pelanggaran. Ke-10 operator itu diketahui telah menerapkan tarif parkir tidak sesuai aturan, dengan cara menaikkan atau membulatkan tarif parkir sehingga merugikan konsumen pengguna jasa parkir tersebut. Bukti ke-10 operator tidak menerapkan tarif parkir sesuai ketentuan, diperoleh dari struk parkir yang didapat petugas.
Para operator parkir sebelumnya diketahui menaikan tarif parkir secara sepihak. Padahal dalam Peraturan Gubernur No 48 Tahun 2004 tentang retribusi parkir dijelaskan jika tarif parkir untuk kendaraan roda 4 seharusnya Rp 2.000 untuk jam pertama dan Rp 1.000 untuk tiap jam berikutnya. Namun dalam kenyataannya ada beberapa tempat perbelanjan yang mematok Rp 4.000 untuk jam pertama dan Rp 2.000 untuk tiap jam berikutnya. Sedangkan tarif parkir motor untuk seluruh peruntukkan Rp 500 untuk jam pertama dan Rp 500 untuk setiap tambahan jam berikutnya. (red/*bj)
Rabu, 24 Februari 2010
Kampus STTIA Akan Direlokasi ke Tegalalur
Informasi terbaru Kampus STTIA Akan Direlokasi ke Tegalalur JAKARTA, MP - Setelah melakukan pertemuan dan pembahasan tentang kasus Sekolah Tinggi Theologia Injil Arastamar (STTIA) dengan anggota Komisi II DPR RI serta pihak Yayasan Bina Setia Indonesia selaku pendiri Kampus STTIA, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta akhirnya menyepakati pemindahan atau relokasi kampus tersebut.
Relokasi segera dilakukan setelah dilaksanakan pengukuran lahan lokasi kampus yang lama di Kampungpulo, Makasar, Jakarta Timur dan pembelian lahan oleh Pemprov DKI Jakarta di lokasi yang baru rampung. Tahun ini, Pemprov DKI Jakarta menyiapkan anggaran sebesar Rp 10 miliar yang berasal dari APBD 2010 yang akan dialokasikan untuk pembelian lahan dan gedung kampus STTIA lama.
Wakil Gubernur DKI Jakarta, Prijanto mengatakan, untuk pembangunan kampus baru STTIA, pihaknya segera membeli lahan seluas 2,5 hektar di kawasan Tegalalur, Kalideres, Jakarta Barat. Untuk memudahkan proses pembelian lahan dan administrasinya, Pemprov DKI Jakarta telah memerintahkan Kantor Badan Pertahanan Nasional (BPN) Jakarta Barat untuk memeriksa status tanah tersebut apakah, dalam proses sengketa atau tidak. Dengan begitu, nantinya dapat diketahui, langkah selanjutnya yang akan diambil untuk pengurusan administrasi sertifikasi tanah dan dilanjutkan pada pembelian lahan.
âSaya sudah perintahkan untuk memeriksa status tanah di Tegalalur. Jangan sampai STTIA mengalami sengketa lahan lagi. Kami harapkan di lokasi baru, mahasiswa bisa menempuh pendidikan dengan tenang, nyaman, dan aman,â ujar Prijanto di Balaikota DKI Jakarta.
Prijanto mengatakan, pengkajian atas lahan baru tersebut diperlukan, mengingat berdasarkan pemeriksaan di lapangan dan lurah setempat menyebutkan, status tanah yang akan dibeli itu saat ini sedang berperkara. Sertifikat kepemilikan tanah diakui oleh dua pihak dan saat ini kasusnya sudah sampai ke tingkat Mahkamah Agung. Kendati pihak yayasan meyakini jika tanah itu tidak bermasalah, namun Pemprov DKI Jakarta tetap meminta melakukan cek ulang status hukum tanah itu, sambil menyelesaikan rencana ganti rugi lahan di Kampungpulo.
Pembangunan gedung dan asrama di lokasi yang baru, kata Prijanto, diprediksi akan memakan waktu sekitar 1,5 tahun. Setelah itu, diikuti dengan pemindahan mahasiswa yang saat ini terpaksa mengikuti kegiatan perkuliahan di tiga tempat berbeda yakni, bekas gedung Dinas Transmigrasi di Jakarta Timur, gedung kampus di Jalan Daan Mogot, serta Kalideres, Jakarta Barat.
Prijanto menegaskan, pembangunan kampus baru segera direalisasikan, setelah Pemprov DKI Jakarta membayarkan ganti rugi atas lahan dan gedung kapus lama yang diperkirakan bernilai Rp 4 miliar. Dia juga mengungkapkan, rencana pembelian lahan tersebut dilakukan atas imbauan dari Komisi II DPR RI agar permasalahan STTIA segera dituntaskan dalam tempo satu bulan, sejak pertemuan Pemprov DKI Jakarta dengan Komisi II DPR RI dan pihak STTIA beberapa minggu lalu.
Beberapa pihak yang diminta untuk segera menyelesaikan kasus STTIA oleh Komisi II DPR RI antara lain adalah, Pemprov DKI Jakarta, Yayasan Bina Setia Indonesia selaku pengelola kampus, Rektor STTIA, Dirjen Humas Kristen Kementrian Agama RI, serta Dirjen Pendidikan Tinggi Kementerian Diknas RI.
Sampai saat ini Pemprov DKI Jakarta belum membayarkan ganti rugi atas kampus STTIA di Kampungpulo karena proses pengukuran bidang tanah dan gedung baru akan dilakukan hari ini, Rabu (24/2) oleh Kantor BPN Jakarta Barat. âKita tidak mau membayarkan ganti rugi jika nantinya ada masalah karena urusan surat yang tidak lengkap. Karena itu, kita minta diukur ulang dan penyelesaian masalah administrasi dulu. Kalau sudah benar diatas hukum, baru kita bayarkan,â tandasnya.
Setelah dilakukan pembayaran ganti rugi terhadap lahan dan gedung di lokasi yang lama, Pemprov DKI Jakarta berencana akan membangun teman interaktif yang bertujuan menambah ruang terbuka hijau (RTH) di Jakarta.(red/*bj)
TKD PNS DKI Cair, Diminta Legih Giat Lagi
Informasi terbaru TKD PNS DKI Cair, Diminta Legih Giat Lagi
JAKARTA, MP - Walau sempat tertunda dua hari, akhirnya tunjangan kinerja daerah (TKD) bagi pegawai negeri sipil (PNS) di jajaran Pemprov DKI dapat dicairkan mulai Selasa (23/2) kemarin. Hanya saja pencairannya belum merata kepada 78.500 pegawai yang ada. Setidaknya pembayaran baru dapat dilakukan pada pegawai di tingkat dinas dan biro. Sedangkan untuk pegawai di wilayah, ada yang sudah dibayarkan dan ada juga yang masih dalam proses."Penilaian sudah beres. Pembayaran TKD sudah diserahkan kepada masing-masing SKPD (satuan kerja perangkat daerah) untuk mencairkan ke BPKD (badan pengelola keuangan daerah)," kata Budihastuti, Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD), Rabu (24/2).
Budihastuti mengatakan, apabila ada pegawai yang belum menerima, hal itu lantaran ada keterlambatan dari SKPD terkait dalam mengajukan pencairan. Namun, yang pasti, alokasi telah disediakan dan tinggal pencairan.
BKD sendiri telah melakukan revisi Pergub nomor 215 tahun 2009 tentang TKD. Revisi dilakukan untuk menyesuaikan besaran TKD kepada kepala sekolah tingkat SD, SMP, dan SMA. Selain itu juga untuk kepala rumah sakit, puskesmas, pegawai kelurahan dan kecamatan, komandan pleton dan komandan regu di Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana.
Sebelumnya, kelompok tersebut diberikan tunjangan yang besarannya sama dengan staf biasa. Padahal tanggungjawabnya lebih besar. Yakni Rp 2,9 juta atau sama dengan pegawai golongan I.
Dalam revisinya, kepala TK, SD dan SLB mendapatkan TKD sebesar Rp 3,15 juta. Kemudian kepala SMP dan SMA sebesar Rp 4,45 juta, kepala SMK dan sekolah unggulan MH Thamrin sebesar Rp 4,7 juta. Selanjutnya, kepala RSUD Duren Sawit Rp 3,9 juta, pegawai kecamatan dan kelurahan sebesar Rp 3,9 juta, Komandan Pleton pemadam Kebakaran Rp 4,2 juta dan komandan regu pemadam Kebakaran sebesar Rp 4,05 juta.
Budihastuti mengimbau, kepada seluruh penerima TKD untuk lebih meningkatkan kinerja. Sebab, pemberian TKD sebagai bentuk penghargaan Pemprov DKI dalam menyejahterakan para pegawainya. Sebagai imbalannya, para pegawai harus bekerja keras untuk bisa meningkatkan pelayanan kepada masyarakat.
Cairnya dana TKD ini jelas disambut gembira oleh para pegawai di lingkungan Pemprov DKI. Salah satunya Rio, satu pegawai Satpol PP yang masih berstatus CPNS. "TKD ini cukup membantu. Sebab, honor, kesra, TPP sudah dihilangkan semua," ucap Rio.
Besaran TKD Rp 2,9 juta hingga Rp 50 juta tersebut disesuaikan dengan golongan masing-masing. Yakni mulai golongan I hingga teratas atau eselon I (sekda). Besaran angka tersebut dihitung maksimal. Angka maksimal bisa dicapai jika pegawai rajin masuk kerja. Sebab, absensi menjadi salah satu faktor penilaian. Bobotnya 70 persen. Sisanya 30 persen didasarkan pada kinerja. Meliputi hasil kerja yang dicapai, lancar tidaknya komunikasi atau kerja sama dengan pihak luar serta kelakuan atau perilaku. (red/*bj)
Selasa, 23 Februari 2010
PMI DKI Akan Dirikan 10 Gerai Donor Darah
Informasi terbaru PMI DKI Akan Dirikan 10 Gerai Donor Darah JAKARTA, MP - Untuk lebih memaksimalkan bulan dana Palang Merah Indonesia (PMI) 2010 serta melibatkan kalangan pengusaha, siswa SMA dan Mahasiswa Perguruan Tinggi, PMI DKI Jakarta berencana akan mendirikan gerai-gerai donor darah sebagai tempat mensosialisasikan bulan dana PMI di sejumlah pusat perbelanjaan, sekolah serta perguruan tinggi pada September mendatang. Rencananya PMI DKI Jakarta akan mendirikan 10 gerai, sedangkan PMI Pusat akan mendirikan sebanyak 100 gerai.
Rencana tersebut didasari oleh, hasil evaluasi kegiatan bulan dana PMI sebelumnya yang menyebutkan, kalangan dunia usaha, warga kalangan menegah atas, siswa SMA dan Perguruan Tinggi terlihat belum optimal dalam penggalangan dana PMI. Dari hasil evaluasi tersebut, justru siswa SD dan SMP dan warga kalangan menengah ke bawah yang memiliki partisipasi sangat besar dari hasil penjualan kupon bulan dana PMI.
Hal tersebut diungkapkan Ketua PMI DKI Jakarta, Rini Sutiyoso yang menyatakan, selama ini warga berpenghasilan rendah dan siswa di tingkat SD dan SMP yang memberikan partisipasi dan sumbangsih besart terhadap penjualan kupon bulan dana PMI. PMI DKI Jakarta berharap pelaksanaan bulan dana PMI tahun ini yang akan bergulir pada September mendatang dapat dimanfaatkan dengan baik oleh kalangan dunia usaha, warga menengah ke atas, siswa SMA serta kalangan Perguruan Tinggi. Untuk itu, sejak September mendatang, kupon bulan dana PMI juga mengalami perubahan dimana tidak akan adalagi terdapat kupon dengan besaran Rp 500 melainkan akan dimulai dari nominal Rp 1.000, Rp 2.000 dan Rp 5.000
âKita akan tingkatkan besaran nominalnya. Hal ini dilakukan agar lebih dapat menggugah pengusaha dan instansi lainnya, karyawan BUMN serta siswa SMA dan mahasiswa Perguruan Tinggi untuk terlibat membeli kupon tersebut,â ujar Rini Sutiyoso, usai menghadiri acara penutupan Bulan Dana PMI 2009 di Balaikota DKI Jakarta, Selasa (23/2).
Selain mengubah besaran nominal, Rini menerangkan PMI DKI Jakarta juga akan membuka gerai-gerai donor darah di mal-mal, sekolah SMA dan Perguruan Tinggi yang memiliki jumlah mahasiswa minimal 20 ribu orang. Gerai donor darah ini akan digunakan sebagai tempat sosialisasi bulan dana PMI dan penjualan kupon bulan dana tersebut.
âKita juga akan membuat gerai-gerai PMI di perguruan tinggi yang memiliki mahasiswa 20 ribu keatas serta sekolah SMA di Jakarta. Kita tidak bisa membuat lebih banyak lagi karena keterbatasan dana dan harus menyediakan alat serta tenaga medis,â jelasnya.
Kurang terlibatnya pengusaha, instansi dan BUMN serta siswa SMA dan mahasiswa Perguruan Tinggi dalam pembelian kupon bulan dana, menurut Rini hanya dikarenakan, kurangnya sosialisasi sehingga informasi penyelenggaraan kegiatan tersebut tidak sampai ke mereka. Agar tidak mengulangi kesalahan yang sama, PMI DKI Jakarta akan melakukan sosialisasi kegiatan bulan dana PMI 2010 pada pertengahan tahun ini melalui iklan sosial di media cetak, televisi dan radio swasta.
âJadi sebelum September, kita sudah mensosialisasikan kegiatan ini sehingga masyarakat luas lebih tergugah dan peduli,â tegasnya.
Kurang terlibatnya warga menengah ke atas yang hidupnya serba kecukupan juga menjadi sorotan Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo. Dia meminta, untuk segera dilakukan kajian dan penelitian faktor penyebab mereka kurang optimal berpartisipasi dalam kegiatan bulan dana PMI. Hasil kajian itu nantinya dapat digunakan atau direkomendasikan sebagai jalan keluar mengatasi kendala dan kelemahan tersebut.
Selama pelaksanaan bulan dana PMI 2009, Fauzi mencatat pengumpulan dana pada tingkat SD dan SMP mencapai angka yang luar biasa. âNamun disisi lain saya bertanya-tanya apa yang terjadi di SMA dan Perguruan Tinggi. Padahal uang saku mereka lebih besar dari siswa SD dan SMP. Jadi saya kira ini perlu dilakukan kajian-kajian mendasar sebelum kita mulai bulan dana 2010 mendatang,â kata Fauzi Bowo.
Untuk lebih menggiatkan dan menggalakan kegiatan ini, gubernur menegaskan, sebelum dimulainya bulan dana PMI tahun ini, Pemprov DKI Jakarta da PMI DKI Jakarta akan menandatangani nota kesepahaman atau MoU dengan seluruh stasiun televisi dan radio-radio swasta niaga di Jakarta dalam mensosialisasikan bulan dana PMI 2010. âTanpa kajian yang mendasar dan pendekatan yang profesional saya tidak yakin kita akan berhasil di tahun ini,â tandasnya. (red/*bj)
Senin, 22 Februari 2010
Stok Darah PMI DKI Masih Aman
Informasi terbaru Stok Darah PMI DKI Masih Aman
JAKARTA, MP - Tingginya permintaan darah di sejumlah rumah sakit belakangan ini, tidak membuat Palang Merah Indonesia (PMI) DKI Jakarta kekurangan stok darah. Bahkan, hingga saat ini stok darah di PMI DKI Jakarta masih normal dan berada pada kisaran 800-1.000 kantong per hari atau sekitar 28-30 ribu kantong setiap bulan.Stok darah itu, biasanya akan dikirimkan kepada sejumlah rumah sakit di Jabodetabek yang membutuhkan pasokan darah segar untuk penderita DBD. Namun, PMI DKI sedikit tertolong, karena tidak semua rumah sakit langsung memberikan bantuan darah kepada pasien DBD, jika pasien itu masih dimungkinkan untuk dilakukan infus.
âUntuk kasus DBD pasien tidak selalu diberikan bantuan darah, mereka yang butuh saja yang diberikan,â ujar Udja Bachrusani, Kepala Bidang Pengadaan Darah PMI DKI Jakarta, Senin (22/2).
Udja menambahkan, untuk mencari stok darah PMI DKI setiap harinya menerjunkan 12-14 mobil operasional untuk mencari para pendonor darah bekerjasama dengan instansi-instansi seperti kantor pemerintahan, swasta, sekolah dan pusat perbelanjaan. Kerjasama itu akan terus dilakukan sehingga setiap harinya persediaan darah yang masuk dan keluar akan stabil.
âKita bekerjasama dengan instansi terkait untuk menyumbangkan darah sehingga antara darah yang masuk dan keluar seimbang", terangnya.
Untuk mengantisipasi adanya lonjakan permintaan darah, Udja juga mengimbau kepada para warga untuk menyumbangkan darahnya kepada PMI DKI. Pihaknya juga berharap, agar kelurahan menyosialisasikan kepada warganya tentang manfaat dari mendonor darah, sehingga apabila ada warga yang terserang penyakit DBD di daerahnya bisa langsung diberikan pertolongan secepat mungkin.
Di Jakarta Pusat sendiri, sejak awal bulan Februari hingga saat ini, Senin (22/1), tercatat penderita DBD mencapai 135 pasien, dengan jumlah penderita terbesar di Kecamatan Kemayoran mencapai 70 penderita, Kecamatan Cempakaputih 59 penderita, dan sisanya berada di kecamatan lain.
âKepada warga diharapkan supaya memperhatikan kebersihan lingkungan sekitar, agar terhindar dari penyakitâ, ujar Hakim Siregar, Kasudin Kesehatan Jakarta Pusat. (red/*bj)
Minggu, 21 Februari 2010
Pengelola Perkantoran Diminta Bikin Fasilitas Bagi Pesepeda
Informasi terbaru Pengelola Perkantoran Diminta Bikin Fasilitas Bagi Pesepeda
JAKARTA, MP - Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo mengimbau kepada pengelola gedung pemerintahan dan perkantoran di Jakarta untuk menyediakan parkir khusus dan fasilitas kamar mandi serta ruang ganti pakaian bagi para pegawainya yang menggunakan sepeda.Imbauan tersebut kembali disampaikan Fauzi Bowo di halaman gedung Badan Perencanaan Pembanguna Nasional (Bappenas) Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, Senin (22/2) pagi usai mengikuti kegiatan bersepeda dan memberikan penghargaan kepada gedung tersebut lantaran telah menyediakan fasilitas lengkap bagi para pegawainya yang bersepeda.
Fauzi Bowo mengatakan, hal itu sebagai dukungan bagi Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta untuk memasukan dan merealisasikan pengadaan jalur khusus sepeda ke dalam masterplan transportasi makro ibu kota. âKita sudah rencanakan agar pengadaan jalur khusus sepeda itu dimasukan ke dalam masterplan yang terintegrasi dan makro pada tahun depan,â ujar Fauzi Bowo.
Namun begitu, dirinya mengaku masih menemui kendala untuk mewujudkan jalur khusus sepeda yang hingga kini terus diupayakan jalan keluarnya. Salah satu kendala tersebut ialah pelebaran jalan. Untuk itu, nantinya Pemprov berniat akan menggunakan sarana yang sudah ada diantaranya, jalur sepeda motor dan pejalan kaki. âKesulitanya adalah, pelebaran jalan,tapi kemungkinanya akan menggunakan jalur yang sudah ada yakni ruas sepeda motor dan pejalan kaki,â ungkap Bang Fauzi, sapaan akrabnya.
Fauzi menjelaskan, sistem transportasi makro memungkinkan orang yang tinggal jauh dari kantornya tetap dapat bersepeda. Dia mencontohkan, nantinya mereka yang tinggal seperti di Bekasi atau Depok tetap dapat bersepeda ke kantornya yang berlokasi di Jakarta. âContohnya mereka yang tinggal di Bekasi atau Depok , dari rumahnya itu naik sepeda lalu nyambung dengan menaikan sepedanya ke bus atau kereta api,â jelasnya.
Sebab itu, Fauzi berharap, agar gedung pemerintahan dan perkantoran di Jakarta dapat mengapresiasi semakin tingginya minat pegawai dan karyawanya bersepeda ke kantor dengan menyediakan parkir khusus dan kamar mandi serta ruang ganti pakaian khusus. âSehingga, mereka yang bersepeda ke kantor merasa aman meletakan sepedanya dan kembali merasa segar dan nyaman setelah mandi dan ganti pakaian,â tambahnya lagi.
Sebab, sambung dia, tidak dapat dipungkiri, jika bersepeda pasti akan menimbulkan keringat di tubuh serta kondisi iklim membuat hawa panas sangat terasa usai mengendarai sepeda.
Bahkan, Fauzi tidak menutup kemungkinan jika nantinya keharusan memenuhi fasilitas bagi pengguna sepeda menjadi suatu ketentuan yang harus dipenuhi. âMungkin nanti hal itu mesti dipatuhi,â tanmdasnya.
Sebelumya, Fauzi Bowo dengan ditemani sejumlah pejabat dari jajaran Pemprov DKI Jakarta dan Pemkot Jakarta Pusat bersepeda dengan menempuh rute start dari Taman Situ Lembang, kemudian menyusuri Jalan Syamsu Rizal, Jalan Muhammad Yamin, melintasi Taman Suropati dan berakhir di halaman Gedung Bappenas, yang terletak di Jalan Dipenogoro, Jakarta Pusat.
Sementara itu salah seorang perwakilan Bappenas, Syahrial Loetan mengaku senang menerima penghargaan tersebut. Karena, fasilitas tersebut sengaja dibuat untuk membuat nyaman pegawai yang bersepeda ke kantor. âPesepeda aktif yang tergabung dalam Bapenas Cycling Club (BCB) mencapai 100 orang lebih. Namun, setiap harinya yang aktif sekitar 10 orang. Pada akhir pekan jumlah pengguna sepeda akan lebih ramai yang mengunjungi kantor ini,â katanya. (red/*bj)
Langganan:
Postingan (Atom)